Rabu, 21 Maret 2012

FIELDTRIP KE RUMAH WAYANG (Alternatif Pendidikan Karakter Berbasis Life skill)



Oleh: Tofik Rochadi

Krisis global yang melanda dewasa ini sangat dirasakan. Bukan saja anak-anak, remaja bahkan orang dewasa krisis moral semakin tampak. Kita merasakan budaya eforia tak terbendung, orang sekarang mudah protes jika tak nyaman dengan dirinya, bahkan golongan manapun sekarang mudah melakukan demo, turun ke jalan hingga bertindak anarkis. Inilah abad demokrasi yang kebablasan. Lebih memprihatinkan adalah mencari tokoh yang dapat dijadikan panutan, rasanya sekarang susah sekali mendapatkan  tokoh teladan di negeri ini. Barangkali tak begitu salah jika dekadensi ini akibat lunturnya pendidikan karakter.
Saya pernah mengelola pembelajaran siswa berbasis lingkungan dalam bentuk fieldtrip. Kegiatan ini dilakukan di lingkungan sekolah dimana siswa diajak jalan-jalan ke suatu tempat di sana siswa melihat, mengamati, bertanya, menggali, bahkan ikut mempraktekkan dan akhirnya siswa membuat laporan perjalanan tersebut secara simpel. Saya pilih lokasi sekitar sekolah ada yang ke industri pembuatan tahu, pengolahan minyak cengkih, pengolahan  teh, pemerahan susu, dan agrobisnis. Kebanyakan siswa senang dan menikmati pembelajaran outdoor tersebut. Inilah yang kami harapkan siswa memiliki life skill atau kecakapan hidup, namun saya belum merasa terobati adanya nuansa pendidikan karakter yang akan mengubah moral dan perilaku siswa.
Kini saya menyambut gembira hari ini (Senin, 19 Maret 2012) Ki Entus Susmono, di Desa Bengle, Kecamatan Talang, Tegal yang setiap saya lewat di depannya berkesan seperti keraton tertutup gerbang tinggi dari kayu tua, kini secara resmi terbuka lebar untuk umum khususnya bagi pelajar.  Ki Enthus dalang kondang itu merelakan ruang padepokan yang luas dan unik di setting seperti keraton pada “alam pewayangan” itu sebagai sarana belajar life skill sekaligus pendidikan karakter. Inilah yang selanjutnya disebut “Rumah Wayang”,  dengan harapan dapat melestarikan seni pewayangan yang merupakan salah satu kekayaan budaya bangsa. Mengapa ada ide kreatif Ki Enthus, Ketua Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Pusat, Eko Tjipto SH, menyoroti tentang dunia seni pewayangan di tanah air yang semakin hari makin tergerus seni modern.
"Siapa saja yang mau melihat-lihat atau belajar seni pewayangan datang saja ke rumah wayang ini, tidak dipungut biaya alias gratis", ujar Enthus. Menurut saya tidak sekedar belajar seni pewayangan, karena ternyata di sana siapa saja dapat belajar proses pembuatan wayang,  tokoh-tokoh wayang, cerita wayang, dan seluk beluk wayang atau apa saja tentang wayang. Cerita pewayangan sarat dengan petuah, teladan, dan amanat kehidupan tentang berbudi luhur, saling tolong menolong, bekerja keras, toleransi, dermawan, tanggungjawab, jujur/amanah, hormat atau santun, kepemimpinan /keadilan dan rendah hati. Tetapi juga karakter antagonis bersifat jahat yang harus kita hindari. Di sinilah pembeda karakter “ hitam putih” sangat jelas digambarkan dalam tokoh-tokoh wayang. Tidak sulit kita mencari tokoh teladan tanpa mengkultuskan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar