Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 September 2017

MENIT PERTAMA YANG MENENTUKAN



 Oleh:TofikRochadi
Jangan abaikan menit-menit pertama dalam proses belajar mengajar, karena  merupakan  waktu yang terpenting untuk satu jam pembelajaran selanjutnya. Apakah siswa tertarik untuk mengikuti sesi berikutnya? Apakah siswa timbul keminatan untuk belajar lebih lanjut? Apakah siswa timbul penasarannya ingin tahu pelajaran yang akan diikuti? Apakah siswa antusias dan bersemangat untuk beraktifitas berikutnya?  Inilah kegiatan awal dalam proses belajar mengajar yang disebut apesepsi.
“Apersepsi” menurut kamus Bahasa Indonesia (Depdiknas, 2002: 60) adalah pengamatan secara sadar (penghayatan) tentang segala sesuatu di jiwanya (dirinya) sendiriyang menjadi dasar perbandingan serta landasan untuk menerima ide tertentu. Apersepsi punya kedudukan penting dalam kegiatan pembelajaran. Sehingga tak berlebihan jika Munif Chatib (Gurunya Manusia, 2011:77) menyatakan bahwa menit-menit pertama dalam proses belajar adalah waktu yang terpenting untuk satu jam pembelajaran selanjutnya. Pada menit-menit pertama itulah apersepsi bisa dilaksanakan.
Dalam sejarahnya orang yang pertama kali mengenalkan istilah teori apersepsi adalah Johan Friedrich Herbart (1776-1841), seorang psikolog, filsuf, sekaligus guru ahli yang berasal dari Jerman. Kenyataan bahwa interaksi antara guru dan siswa dalam proses pembelajaran sangat dinamis dan kompleks sehingga sulit dijelaskan secara sederhana, telah mendorong Herbart untuk menemukan teori apersepsi.
Hal serupa dapat juga dikaji dalam teori Quantum Teaching Bobbi DePorter. Rancangan pembelajaran Quantum Teaching melalui beberapa tahap yang disingkat dengan TANDUR. Tumbuhkan, Alami, Namai, Demonstrasikan, Ulangi, dan Rayakan. Tumbuhkan adalah aktivitas yang melibatkan siswa. Pengajar ikut serta dalam jalinan proses belajar untuk saling memahami dan memuaskan siswa dengan konsep AMBAK (Apa Manfaatnya Bagiku).
Alami adalah aktivitas memberikan pengalaman kepada siswa dengan memanfaatkan hasrat alami otak untuk menjelajah. Saat mempelajari sesuatu dalam kehidupan nyata, kita sudah punya pengalaman awal, yang berhubungan dengan suatu konsep. Dengan adanya pengalaman, informasi yang abstrak akan menjadi konkret. Namai adalah aktivitas penamaan yang memuaskan hasrat alamiah otak untuk memberikan identitas, mengurutkan, dan mendefinisikan. Tampaknya kegiatan Tumbuhkan, Alami dan Namai dalam Quantum Teaching ini adalah kegiatan apersepsi itu.
Namun dalam prakteknya, pengalaman saya melakukan apersepsi tidaklah mudah. Masalahnya, bukan hanya disebabkan oleh kurangnya penguasaan saya  terhadap apersepsi, tapi juga banyak guru lain yang beranggapan bahwa penguasaan apersepsi hanya berpengaruh kecil terhadap proses pembelajaran. Karenanya, tidak sedikit guru yang ketika masuk kelas langsung mengajarkan materi pelajaran. Sebagaimana ketika saya dulu awal menjadi guru. Ketika masuk ke ruang kelas, saya langsung mengajarkan materi yang akan diajarkan. Tentu saja setelah memberi salam, kemudian memberikan instruksi. “Anak-anak!, Ayo buka bukunya halaman 30, dan kerjakan soal-soalnya!”. atau “Anak-anak, hari ini kita akan belajar tentang masalah ……!”
Sekarang saya baru sadar, atau pembaca  dapat membayangkan bagaimana kondisi kelas yang terjadi. Pengajar dengan tipe seperti ini, pada detik pertama dia berada di kelas, langsung mendapat respon negatif dari murid, siswa, atau peserta didik. Pengajar seperti ini tentu tidak diminati sejak awal masuk kelas.
Bandingkan cara saya mengawali pelajaran beberapa tahun kemudian.  Saya masuk kelas menyampaikan salam lalu menyampaikan pengalaman menarik terlebih dahulu. Di waktu yang lain saya juga yang melakukan sekedar permainan seperti tebakan atau menggerakkan badan disertai tepuk tangan. Adakalanya saya mengajukan pertanyaan-pertanyaan ringan tapi menantang. Saya terkesan dengan kreatifitas anak-anak diajak untuk menciptakan yel-yel yang semangat mereka gembira dan meriah sekali, bahkan tetangga kelas saya merasa terganggu karena agak riuh.  Yel-yel yang diciptakan anak-anak bervariasi ada yang mengambil lirik lagu populer, ada yang membuat semboyan untuk terus maju dan sukses, ada pula yang bersorak lucu dan bersemangat. Contoh yel-yel yang mereka ciptakan:
Mana dimana, anak paling keren!
Anak paling keren ada di (kelas) 8a
Mana dimana, anak paling jago,
Anak paling jago ada di 8a
Ayo mulai belajar !
Ayo mulai belajar !
Ayo keren belajar penuh semangat!
SELAMAT PAGI…. SELAMAT PAGI PAK GURU… SEMANGAT……SEMANGAT…… SEMANGAT….ALLAHU AKBAR…….

Bila kita contohkan nama team yel yel anda adalah "Cantik", maka lagu anak-anak berjudul Ke Puncak Gunung bisa dirubah liriknya menjadi seperti berikut ini:
Cantik, Cantik, Pasukan Cantik,
Siap Untuk Beraksi
Naik, Naik, Ketemu Cantik,
Turun Juga Ketemu...
Kiri Kanan, Semua Cantik,
Kami Pasukan Cantik-Cantik,
Kiri Kanan, Semua Cantik,
Kami Pasukan Cantiiik.

  Bahkan suatu saat saya  menunjukkan film atau video-video menarik dan mengundang pertanyaan dan rasa ingin tahu karena memanfaatkan fasilitas multimedia, LCD atau VCD di ruang kelas. Contoh bisa dikembangkan adalah vidio Harun Yahya.
Berbeda lagi yang dilakukan guru lain di ruang sebelah saya mengajar.  Teknik apersepsi yang biasa dilakukan adalah Fun Story. Fun story atau cerita lucu yang disampaikan oleh guru pada 5 menit sebelum belajar dimulai akan dapat membuat otak anak siap untuk belajar sehingga enjoy. Dengan cerita lucu siswa  akan merasa relaks dan senang yang ditandai dengan rona wajah yang ceria, tersenyum, bahkan tertawa. Munif Chatib menyebut kondisi tersebut sebagai Zona Alfa. Kondisi alfa adalah tahap paling iluminasi (cemerlang) proses kreatif otak seseorang. Kondisi ini dikatakan sebagai kondisi paling baik untuk belajar. Sebab, neuron (sel saraf) sedang berada dalam suatu keseimbangan. Yaitu, ketika sel-sel saraf seseorang melakukan tembakan impuls listrik secara bersamaan dan juga istirahat secara bersamaan sehingga timbul keseimbangan yang mengakibatkan kondisi relaksasi seseorang (Munif,2011:90).
Saya mencoba untuk mempraktekan teknik Fun Story. Cerita lucu dari pengalaman pribadi atau  cerita dari pengalaman orang lain, terkadang saya ambil dari buku-buku humor, internet dan yang lainnya. Jika ada kemauan ternyata tidak sulit mencari sumber inspirasi. Ternyata Fun Story dapat juga berupa, gambar lucu, video lucu, teka-teki.
 Berikut adalah satu contoh cerita lucu yang pernah saya ambil  untuk disampaikan sebelum belajar.
“Anak-anak, ada seorang pemuda yang punya kuda ajaib. Ya, ajaib sebab kuda itu punya password atau kata kunci. Jika ingin membuat kuda itu mulai berjalan, password-nya kita ucapkan alhamdulilah. Tanpa ucapan itu, si kuda tidak akan mau jalan. Sebaliknya, jika ingin berhenti, kata kuncinya adalah bismillah. Sang pemuda membawa kuda itu ke kota yang ramai dan bertemu dengan teman lamanya. Melihat kuda yang demikian bagus, sang teman ingin meminjam dan menaiki kuda tersebut. Awalnya, si pemilik kuda menolak, tetapi karena dipaksa, akhirnya pemuda itu rela meminjamkan kuda ajaibnya dan memberikan password-nya. Begitu diberi tahu, sang teman menaiki kuda dan mengucapkan alhamdulillah sehingga langsung meringkik dan berlari. Karena senang kembali mengucapkan alhamdulillah sehingga kuda berlari tambah kencang, keluar dari kota, memasuki hutan, dan menuju jurang menganga. Penunggang kuda sangat panik sampai lupa kata kunci untuk berhenti. Jurang di depan tinggal 20 meter lagi, dia masih lupa password untuk berhenti. Jurang sudah berjarak 10 meter, 5 meter, 2 meter. Pada detik terakhir, dia teringat kata kunci untuk menghentikan kuda, lalu meneriakan bismillah. Kontan si kuda berhenti di bibir jurang. Begitu melihat dirinya selamat, sang penunggang kuda mengucapkan alhamdulillah. Kalian bisa menebak sendiri bagaimana akhir ceritanya”.
Saya tertarik apa yang sering dilakukan para instruktur widyaiswara karena mereka sering melakukan Ice breaking. Kegiatan untuk memecahkan kebekuan, membangkitkan semangat, bahkan bisa digunakan untuk pemantapan konsep dan kembali masuk ke kondisi alfa. Ice breaking yang bisa diterapkan di kelas yang berfungsi menciptakan kondisi alfa atau mengembalikan kondisi alfa harus memenuhi beberapa syarat, yakni (1) Ice breaking dilakukan dalam waktu singkat, makin singkat semakin baik. (2) Ice breaking diikuti seluruh siswa (kolosal). (3) Pengajar dapat menjelaskan dengan singkat teaching-point atau maksud ice breaking dalam waktu tidak terlalu lama. (4) Apabila target sudah terpenuhi, yaitu peserta sudah kembali senang, segera kembali ke materi. Kita bisa ambi contoh sebagai berikut:

“APA KABAR ?”
Jika saya tanya maka jawablah secara serentak, tetapi jawaban kita sepakati dulu. Jika saya tanya Bagaimana kabarnya pada pagi hari ini…!
Jawablah : Alhamdulillah, luar biasa Allahu Akbar…!
Jika saya tanya : How are you today? Jawablah: Excellent….!  Fantastic…!
Sekarang kita lakukan jawablah serentak. Ok ?
“Apa kabar pada pagi hari ini…!”
“Alhamdulillah,.... luar biasa.... Allahu Akbar…!”
“How are you today? “
“Excellent….!  Fantastic…!”

“IKUTI APA YANG SAYA KATAKAN”
Kata kunci kita pada permainan ini adalah “Ikuti Apa Yang Saya Katakan” Saya  sebutkan beberapa nama binatang, simaklah....
“Ayam-ayam, itik-itik, ayam itik itik ayam,” (Saya ulangi lagi sampai dua kali). “Ada berapa ayam?” (Mereka rata-rata bingung dan terdiam, kebanyakan dari mereka minta agar permainan diulang)
Saya ikuti kemauan mereka, diulang  beberapa kali dengan tetap menyebutkan instruksi permainan ini. Mungkin akan keluar jawaban-jawaban berupa angka-angka, saya katakan bahwa semua jawaban salah…! Maka diulangi lagi. Setelah beberapa lama, siswa sadar terhadap instruksinya, sehingga jawabannya pun akan benar. Karena yang disuruh bukan menghitung ayam atau itiknya, tapi untuk mengikuti yang saya katakan.
-Inti dari permainan ini adalah konsentrasi, untuk  mengenali dan melaksanakan instruksi yang diberikan, bukan untuk menghitung jumlah ayam atau itik.

“TEBAK APA YANG SAYA KATAKAN”
Perhatikan kata kunci  permainan ini: “tebak apa yang saya katakan”
Saya tunjukkan  jempol dan mengucapkan ini ayam
Saya tunjukkan telunjuk dan mengucapkan  yang ini sapi
Kemudian saya menunjukkan  jari tengah dan  mengucapkan kalo yang ini kerbau. Sudah paham atau belum? Sekarang kita praktekan untuk mengetest Latihan, setelah dirasa paham, barulah saya lanjutkan.
Siswa saya minta  menebak apa yang saya katakan. Saya katakan” Kalo yang ini” tetapi kita menunjuk pada jari kelingking. Siswa  akan bingung dan protes. Saya ulangi lagi dengan variasi lain. Sampai terjawab dengan benar.
Ketika siswa telah memahami instruksi diatas, maka ia akan mengikuti kata kunci tanpa memperhatikan jari mana yang kita tunjukkan. Jawaban yang benar adalah bila trainer menyebutkan “ini”, maka jawabannya adalah “ayam” dst,

PERMAINAN WARNA
Berikut ini ada beberapa pertanyaan sangat mudah yang harus kalian jawab dengan cepat. Baca secara berurutan dan jangan terlalu lama berpikir. Baiklah, mari kita mulai...
Permainan warna
Uban warnanya...
Awan warnanya...
Tisu warnanya...
Sapi minumnya...
(Kalau siswa menjawab susu berarti ia kurang konsentrasi.
Sapi minumnya air).

Oke, lanjut.
Konsentrasi...
Rambut warnanya...
Arang warnanya...
Aspal warnanya...
Kelelawar tidur di waktu...
Kalau anda menjawab malam maka anda masih belum konsentrasi.
Kelelawar tidur di waktu siang.

Sekali lagi ya...
Konsentrasi...
Cendol warnanya...
Lumut warnanya...
Daun warnanya...

Harimau makannya...
Ada yang masih menjawab rumput? Berarti terjebak jawaban yang salah.

            Saya juga mencoba belajar dengan seorang kawan guru seni musik. Ternyata musik diyakini dapat mengembalikan gelombang otak kembali ke zona alfa. Sudah banyak penelitian yang menyatakan pengaruh musik dan kekuatan otak. Musik sebagai bagian dari cara untuk masuk ke zona alfa dapat dibagi menjadi tiga tahap, yaitu (1) Musik pada saat peserta masuk kelas, seperti Sonata for Two Pianos in D, dari Mozart. Paggini for Two dari Nicola Paggini. Atau The Universal dari Bluer. (2) Musik pada saat proses belajar berlangsung. Ada tiga jenis, yaitu (a) musik pada saat pengajar melakukan presentasi, seperti Canon in D dari Johan Pachelbel, Adagio in G Minor dari Thomas Albioni. (b) musik pada saat melakukan aktivitas, seperti Mediterrano (The Seventh Heaven) dari GOVI, Rising in Love dari GOVI. (c) musik pada saat melakukan relaksasi, seperti Nocturne in E Flat Major dari Frederic Chopin, Sumpony No. 6 dari Beethoven. (3) Musik pada saat proses belajar selesai, seperti We are the Champion dari Queen, Celebration dari Fun Factory. 
Untuk apersepsi juga saya dapatkan dari beberapa pelatihan motivasi, dapat dilakukan kepada siswa Brain Gym (senam otak). Paul E. Denisson, Ph.D., dari Educational Kinesiology, AS, adalah orang pertama kali mengenalkan metode terapi brain gym pada tahun 1990-an. Brain Gym memudahkan kegiatan belajar dan melakukan penyesuaian terhadap ketegangan, tantangan, dan tuntutan hidup sehari-hari.
Contoh senam otak adalah 1.Tembak kelinci: kanan menembak tangan kiri acungkan dua jari, dilakukan bergantian. 2.Satu Lima: Tangan kiri buka lima jari tangan kanan buka satu jari dilakuakan bergantian dengan irama teratur dan dipercepat 3.Cuci hidung cuci telinga: tangan kanan pegang telinga diling tangan kiri pegang hidung bergantian. 4. Es krim coklat: Tangan kanan gengam kelingking, bergantian tangan kiri dilakukan dengan irama teratur. 5.Perut kelaparan kepala kepanasan: tangan kanan mengelus perut, tangan kiri menepuk kepala dilakukan bersamaan dan bergantian.6.Tumbuk seterika: tangan kanan menumbuk tangan kiri menyeterika, dilakukan sebaliknya. 7. Sarang lebah & sarang semut: Tangan kiri melukis lingkaran tangan kanan melukis segi empat, dilakuakan bersamaan. 8. Pukul elus: Tangan kanan memukul pinggang tangan kiri menggosok pinggang’ lalu dilakukan bersamaan dan bergantian.dst.

 Kegiatan “Apersepsi” sangat penting dilakukan pada awal-awal proses pembelajaran. Setidaknya setiap mengawali pelajaran kita mengaitkan materi pelajaran sebelumnya atau mengantarkan materi yang akan dipelajari dengan dunia nyata anak, yang aktual dan segar.  Kegiatan apersepsi dalam arti luas menjadi penentu keberhasilan proses pembelajaran yang akan berlangsung. Banyak kegagalan dalam proses pembelajaran di kelas karena mengabaikan apersepsi ini. Kegiatan apersepsi pada hakekatnya membangkitkan sifat manusia sebagai pembelajaran sepanjang hayat, sebagai manusia yang memerintahkan diri sendiri, dan yang mengikuti instruksi setelah diberikan stimulus khusus secara tepat. Apersepsi juga dipahami sebagai menciptakan kondisi (zona) alfa. Yaitu kondisi paling efektif dalam proses belajar. Apersepsi dalam dilakukan melalui empat cara, yakni (1) Ice Breaking, (2) Fun Story, (3) Musik, dan (4) Brain Gym.***


Minggu, 08 Mei 2016

Waspadalah Generasi Z




Oleh: Tofik Rochadi,S.Pd.M.Pd.
Pada sebuah Pelatihan Instruktur Provinsi Kurikulum Sekolah Menengah Pertama di Jogjakarta bulan April 2016, saya terkesima dengan materi Peran Keluarga dalam Pembelajaran Kesiswaan. Ternyata kita tak terasa sudah memasuki generasi yang tak bisa dibendung dan harus waspada. Jika tidak kita akan terperosok pada generasi tak terkendali dan berbahaya. Apa itu?  Mari kita simak pembahasannya.
Don Tapscott dalam bukunya Grown Up Digital membagi demografi penduduk dalam 5 kelompok generasi , yaitu:  (1) Generasi Baby Boomer, lahir 1946-1964, (2) Generasi X, lahir 1965-1980, (3) Generasi Y, lahir 1981-1994. Generasi  Z, lahir 1995-2010, dan (5) Generasi Alpha, lahir 2011-2025. Generasi Z (disebut juga iGeneration,  Generasi Net, atau Generasi Internet) terlahir dari generasi X dan Generasi Y.
Apa dan Bagaimana Ciri Generasi Z?
Mereka lahir dan dibesarkan di era digital, dengan aneka teknologi yang komplet dan canggih, seperti: komputer/laptop, HandPhone, iPads, PDA, MP3 player, BBM, internet, dan aneka perangkat elektronik lainnya. Sejak kecil, mereka sudah mengenal (atau mungkin diperkenalkan) dan akrab dengan berbagai gadget yang canggih itu, yang secara langsung atau pun tidak langsung akan berpengaruh terhadap perkembangan perilaku dan kepribadiannya. Tuhana Taufiq Andrianto dalam Jusuf AN (2011) memperkirakan akan terjadi booming Generasi Z  sekitar tahun 2020.
Generasi Z memiliki karakteristik perilaku dan kepribadian yang berbeda dengan generasi sebelumnya.  Beberapa karakteristik umum dari Generasi Z diantaranya adalah:
  1. Fasih Teknologi. Mereka adalah “generasi digital” yang mahir dan gandrung akan teknologi informasi dan berbagai aplikasi komputer.  Mereka dapat mengakses berbagai informasi yang mereka butuhkan secara mudah dan cepat, baik untuk kepentingan pendidikan maupun kepentingan hidup kesehariannya.
  2. Sosial. Mereka sangat intens berkomunikasi dan berinteraksi dengan semua kalangan, khususnya dengan teman sebaya melalui berbagai situs jejaring, seperti: FaceBook, twitter, atau  melalui SMS. Melalui media ini, mereka bisa mengekspresikan apa yang  dirasakan dan dipikirkannya secara spontan. Mereka juga cenderung toleran dengan perbedaan kultur dan sangat peduli dengan lingkungan.
  3. Multitasking.  Mereka terbiasa dengan berbagai aktivitas  dalam satu waktu yang bersamaan. Mereka bisa membaca, berbicara, menonton, atau mendengarkan musik dalam waktu yang bersamaan. Mereka menginginkan segala sesuatunya dapat dilakukan dan berjalan serba cepat. Mereka tidak menginginkan hal-hal yang bertele-tele dan berbelit-belit.
Karakteristik tersebut memiliki dua sisi yang berlawanan, bisa positif- memberikan manfaat bagi dirinya dan atau lingkungannya- atau justru malah negatif yang dapat merugikan diri sendiri maupun lingkungannya. Wawan (2011)  dalam tulisannya yang dipublikasikan di Wikimu, mengatakan bahwa karena mereka fasih dengan teknologi digital, mereka sangat cocok bekerja di perusahaan besar, perusahaan yang mampu menyediakan fasilitas modern. Namun mereka akan kesulitan jika diminta mengelola sebidang tanah, dengan fasilitas pengairan, dan modal uang secukupnya. Karena yang ada di benak mereka adalah komputer, laptop dan HP, bukan peternakan, perikanan dan pertanian.  Merurut Tuhana Taufiq Andrianto, sebagaimana disampaikan oleh Jusuf AN  dalam tulisannya yang berjudul “Masa Depan Anak-Anak “Generasi Z” bahwa  anak cenderung berkurang dalam komunikasi secara verbal, cenderung bersikap egosentris dan individualis, cenderung menginginkan hasil yang serba cepat, serba-instan, dan serba-mudah, tidak sabaran, dan tidak menghargai proses. Kecerdasan Intelektual (IQ) mereka mungkin akan berkembang baik, tetapi kecerdasan emosional mereka jadi tumpul. Sementara itu,  Choiron  (2011) menyoroti tentang bahaya dari kecenderungan generasi Z yang gemar  mendengarkan musik melalui earphone,  yang dapat menyebabkan kecelakaan lalu lintas dan gangguan pada pendengaran.
Sementara Harian Kompas Harian Kompas, Senin 20 Maret 2015, memberitakan bahwa dunia kita sekarang memasuki era baru, Internet of Things, era ketika semua perangkat elektronik disekitar kita akan saling terhubung dengan internet. Pengunaan internet yang sangat tinggi ini, khususnya pada media sosial, memunculkan sebuah fakta yang juga menarik. Dalam jurnal Personality and Social Psychology Bulletin ditemukan bahwa remaja yang sudah bosan dengan media sosial cenderung tidak merasa kesepian karena berinteraksi dengan kelompok kecilnya. Kesimpulannya, ilmuwan menemukan saat ini remaja lebih bersifat individualis daripada remaja masa lalu. Sifat individual tersebut mengurangi rasa kesepian dan mengurangi kebutuhan interaksi dengan komunitas yang lebih luas.
Sebelumnya saya berdiskusi ringan dengan Dr. Hari Wulyanto. MPd. Kasi Kurikulum Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah kebetulan minta tanggapan saya tentang sebuah judul bukunya “Abad Kesepian” yang akan dirilis. Pemerhati pendidikan ini sudah membayangkan dari fenomena yang terjadi di lingkungannya bahkan putranya sendiri. Diilustrasikan betapa sepinya dunia ini, ketika bepergian sekeluarga satu mobil ayah, ibu dan anak sibuk dengan HP androidnya, tanpa tegur sapa. Disinilah awal komunikasi yang paling dekat tidak terbangun justru media maya ini mendekatkan yang jauh tapi sekaligus menjauhkan yang dekat. Saya mengoreksi beberapa tulis beliau dan merasa berterimakasih telah memberikan masukan.
Bisa jadi, saat ini dan tahun-tahun ke depan, relasi interpersonal secara langsung, tatap muka antara orang tua dan anak, sudah lebih tidak ada lagi karena telah digantikan dengan relasi dan hubungan yang terbangun lewat perangkat elektronik dan jaringan internet. Orangtua terlalu sibuk dengan usaha dan pekerjaan, sehingga melupakan arti pentingnya kehadirannya dalam setiap ruang pendampingan, pembinaan dan pendidikan anak. Lalu pada situasi seperti ini, generasi seperti apa yang hendak lihat di masa depan? Generasi yang menghabiskan waktu berjam-jam bahkan seharian dengan gadget dan internetnya, lalu membuat orang-orang terdekatnya semakin jauh dari kehidupannya?
 Apa yang Bisa Kita lakukan?
Generasi Z sudah mulai hadir dalam kehidupan kita. Tantangan paling menantang bagi setiap orangtua adalah, bagaimana memainkan perannya dalam sebuah kerangka pola asuh yang tidak saja berusaha mengedepankan penumbuhan nilai-nilai dan pembentukan karakter, tetapi juga tetap memperhatikan ‘situasi dan selera’ anak serta perlu juga mewaspadai munculnya berbagai gangguan psikis atau internet addiction oleh karena penggunaan internet yang berlebihan.
Adalah kenyataan bahwa ketidakmampuan guru/orangtua dalam mengenal anak (tahap dan proses perkembangan) dan berkomunikasi dengan anak menyumbangkan problem paling besar dalam pendidikan anak dibandingkan dengan problem yang dibawa anak itu sendiri sejak lahir. Maka pada titik ini, kebutuhan akan kompetensi parenting orangtua menjadi sangat penting. Orangtua perlu smart parenting. Salah satu teknik smart parenting yang bisa digunakan adalah hypno parenting.
Hypno parenting merupakan salah satu dari aplikasi keilmuan hypnosis dalam melakukan berbagai komunikasi yang efeketif dan efesien, pendekatan dan pendampingan terhadap anak secara sangat persuasif. Bahasa yang digunakan dalam teknik hypno parenting adalah bahasa ‘kita’ bukan ‘kamu’. Bahasa ‘kita’ lebih bersifat empati, fokusnya pada perasaan anak, keluar dari jiwa dan membangun positive feeling. Sementara bahasa ‘kamu’ lebih bersifat ‘blaming the victim’, menuntut, memaksa, menasihati, keluar dari emosi, bersifat defensif dan membangun negative feeling (kamu nakal, kamu jahat, kamu bodoh, dsb). Hypno parenting diawali dengan proses identifikasi tipologi pembelajaran anak, atau cara anak menyerap informasi, apakah secara visual, auditori ataukah secara kinestetik. Selanjutnya identifikasi perilaku anak. Berbekal pemahaman akan kecenderungan tipologi anak dan identifkasi perilaku, barulah orangtua melakukan pendampingan. Pembinaan ataupun pendidikan anaknya.
Bagi saya, anak-anak memerlukan internet. Betapa tidak, internet telah menjadi salah satu instrument pembelajaran dewasa ini, demi keseimbangan antara fungsi visual, auditori dan kinestetik anak. Keseimbangan ini perlu,
 Beberapa cara dan peran berikut ini, kiranya bisa dimainkan para orangtua.
  1. Orangtua memberi pengertian kepada anak, tentang situs dan konten mana yang boleh diakses oleh anak dan mana saja yang tidak boleh. Tentu saja yang tidak boleh adalah situs-situs pornografi dan kekerasan serta semua situs yang bertentangan dengan nilai-nilai agama, adat istiadat dan kearifan lokal. Untuk anak-anak usia 1 – 12 tahun, hemat saya masih memerlukan pendampingan dari orangtua dalam hal penggunaan internet. Untuk anak-anak usia diatas 12 tahun, sudah bisa diberi kebebasan terbatas untuk mengakses internet, namun tetaplah dengan batasan situs dan konten internet mana yang boleh diakses;
  2. Orangtua melakukan pengawasan/pembatasan yang ketat juga perlu dilakukan oangtua, misalanya dengan penggunaan aplikasi pembatas situs porno (software filter) atau search engine khusus bagi anak atau computer ditempatkan diruang terbuka yang bisa dilihat semua anggota keluarga.
  3. Orangtua tetap dituntut bersikap tegas, namun tetap lembut dan kesabaran;
  4. Orangtua mengeksekusi character building dan atau pendidikan nilai secara terus menerus, dengan penuh cinta untuk mengimbangi derasnya pengaruh negatif dari internet;
  5. Orangtua membangun dialog – komunikasi yang terbuka serta menjamin kehadiran diri secara utuh dan perhatian yang terus-menerus;
  6. Orangtua perlu juga mengasah dan meningkatkan kompetensi diri:dalam hal pendidikan dan pendampingan bagi anak-anaknya, misalnya dengan rajin membaca buku-buku parenting, mengikuti seminar maupun pelatihan-pelatihan pengembangan diri, khususnya yang bertema psikologi atau parenting dan komunikasi efektif.

 Jika anda ingin generasi Z maupun Alpha di masa depan menjadi generasi yang sehat mentalnya, maka mulai sekarang persiapkan dirimu, termasuk mempersiapkan diri dengan segenap kompetensi parenting.
Sumber-sumber :
  1. http://khairulabdullah.com/generasi-apakah-anda-x-y-atau-z/;
  2. Harian Kompas, Jumat, 20 Maret 2015, halaman 37;
  3. http://health.detik.com/read/2015/02/13/174338/2832704/763/studi-punya-teman-di-jejaring-sosial-bisa-kurangi-rasa-kesepian;
  4. Materi-materi pelatihan Hypno Parenting milik Bung Joss.
  5. Wulyanto,Hari. 2015. Abad Kesepian.